center>

Refleksi Kebangkitan Nasional : Bersatu Melawan Penindasan

12.41
Refleksi Kebangkitan Nasional : Bersatu Melawan Penindasan - Sudah 108 tahun berlalu, tepat pada tanggal 20 Mei 1908 berdirinya organisasi pemuda, yaitu Boedi Oetomo dan 20 tahun setelah itu diikrarkannya sumpah pemuda sebagai tonggak sejarah Indonesia yang menandai dan mengawali bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan dan nasionalisme yang tinggi dalam merebut kemerdekan Indonesia dari cengkraman penjajah.

Sudah 108 tahun pemuda indonesia membangun semangat persatuan, kesatuan dan nasionalisme yang didasarkan pada keadaan senasib-sepenanggungan untuk membebaskan indonesia dari negara jajahan. Hal ini bukan tidak ada kaitannya dengan saat ini. Jika setiap tanggal 20 Mei hanya dijadikan sebagai suatu hari peringatan tanpa sebuah refleksi, maka ada baiknya hari peringatan itu dihapuskan. Karena yang jauh lebih penting dari suatu hari peringatan adalah refleksi terkasit momentum tersebut dilihat dari kurun waktu lampu, kini dan waktu ke depannya.

source : google image
Jika kita kembali melihat bangkitnya gerakan pemuda atau bangkitnya nasionalisme tidak lain dan tidak bukan didasari oleh suatu keadaan yaitu senasib-sepenanggungan, sama-sama dijajah, ditindas oleh bangsa lain. Dan di sini kita tidak boleh melupakan bahwa semangat persatuan dan nasionalisme ini memiliki tujuan yang sangat mulia, yakni melawan berbagai bentuk penindasan atas manusia oleh manusia lain, melawan berbagai bentuk penindasan atas bangsa oleh bangsa lain.

Dalam refleksi hari kebangkitan nasional hari ini, ada beberapa hal yang menjadi poin refleksi bersama yakni :
1. Semangat Persatuan dan kesatuan
2. Nasionalisme
3. Melawan berbagai bentuk penindasan dan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia (sosialisme indonesia)

Jika kita sedikit melirik keadaan negara kita saat ini, sepertinya semangat yang ketiga point di atas sedikit demi sedikit mulai hilang. Rasa persatuan dan kesatuan sudah mulai luntur, hal ini ditandai oleh adanya gerakan-gerakan yang memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tingginya rasisme yang dapat mengancam keutuhan NKRI, dan berbagai bentuk lainnya yang menggambarkan runtuhnya semangat persatuan dan kesatuan. Begitupun dengan nasionalisme, hal ini sudah mulai hilang dalam masyarakat. Dan sama halnya juga dengan budaya bangsa indonesia yang melawan berbagai bentuk penindasan, melawan neo-kolonialisme dan imperealisme. Hal ini sangat-sangat kelihatan dalam lingkungan kita dan terjadi setiap saat. Imperealisme, kapitalisme sudah mencengkram bangsa Indonesia hampir di segala aspek. Hal ini semakin menjauhkan Indonesia dari cita-cita kemerdekaannya untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Di lingkungan kampuspun, segala bentuk penindasan berkembang dengan luas. Hal ini mungkin kita bisa melihat dari mahalnya biaya pendidikan yang mencengkik leher masyarakat indonesia sendiri dan menjauhkan sebagian rakyat dari pendidikan yang merupakan sebagai media pencerdasan bangsa. Dan berbagai bentuk-bentuk lain yang menggambarkan bentuk-bentuk penindasan manusia oleh manusia lain. Dan jika kita menarik lebih jauh lagi, kita dapat mengetahui bahwa imperealisme dan kapitalisme telah mencongkol di dunia pendidikan yaitu dengan dikerdilkannya demokrasi di lingkungan kampus.

Dan jikalau saat ini keadaan negara sudah semakin jauh dari cita-cita luhurnya, lantas apa yang harus dilakukan? Jika kita berbicara tentang solusi dan langkah-langkah yang bisa dilakukan dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia yang diperjuangkan dengan semangat persatuan, kesatuan dan nasionalisme maka langkah pertama adalah kembali kepada. Rahim perjuangan, rahim bangkitnya nasionalisme Indonesia, yakni melawan Nekolim.

Sebagai mahasiswa, ada beberapa hal yang bisa dilakukan sebagai bentuk refleksi dari hari kebangkitan nasional adalah sebagai berikut :
1. Melawan berbagai bentuk tindakan rasisme (intoleran), dimulai dari pribadi yaitu dengan menumbuhkan rasa toleransi terhadap golongan lain;
2. Menumbuhkan rasa kekeluargaan sebagai satu bangsa dengan semangat gotong-royong;
3. Mewujudkan demokrasi khususnya di lingkungan kampus dengan merebut kedaulatan rakyat (mahasiswa) dari tangan kapitalis; dan lain-lain

Jadi, dengan semangat hari kebangkitan nasional kiranya kita kembali menumbuhkan rasa dan semangat persatuan, kesatuan dan nasionalisme untuk melawan berbagai bentuk penghisapan/penindasan atas manusia/bangsa oleh manusia/bangsa lain dalam mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia seperti yang sering kita "sebutkan" pada sila kelima Pancasila.

Relisman Dachi
Fisika'13

Previous
Next Post »
0 Komentar