center>

Bersama LPSK Kita Tekan Angka Kriminalitas Yang Ada

01.48
Indonesia merupakan salah satu negara yang termasuk tinggi dalam angka kriminalitasnya. Dari tahun ke tahun angka kriminalitas ini makin meningkat dan beragam jenisnya. Pemicunya sendiri ada berbagai macam persoalan diantaranya persoalan ekonomi, sosial, konflik dan bahkan rendahnya kesadaran diri akan hukum dari masyarakat Indonesia sendiri dapat menjadi penyebab meningkatnya angka kriminalitas, namun tak jarang juga semua itu terkadang dipicu oleh masalah yang sepele.

Pada tahun 2013 sendiri, dari data BPS Indonesia menyebutkan bahwa ada sekitar 342.084 kasus kejahatan yang terjadi pada tahun tersebut, yang berarti dalam 1 menit 32 detik telah terjadi satu kali tindak kriminalitas di Indonesia. Sementara dari data lainnya menyebutkan bahwa dari 100.000 orang Indonesia, 140 diantaranya memiliki resiko untuk terkena tindak kriminalitas. Sedangkan secara global, menurut sumber lain yang terpercaya situs numbeo.com menyebutkan bahwa pada tahun 2015 yang lalu Indonesia berada pada peringkat 68 dari 147 negara dengan tingkat kejahatan rendah. Dengan Negara Isle Of Man berada pada peringkat 1 dari 147 negara dengan tingkat kejahatan yang rendah, memiliki persentase safety indek 84,90% dan crime indek 15,10%. Disusul oleh Singapura diperingkat yang kedua negara tingkat kejahatan rendah dengan safety indek 82,41% dan crime indek 17,59%.

Data-data seperti yang telah disebutkan diatas, didasarkan pada laporan-laporan yang masuk ke kepolisian.
Dari ratusan ribu tindak kejahatan yang terjadi dari tahun ke tahun, Polri telah mengkategorikan 11 jenis tindak kriminalitas yang masuk dikategorikan sebagai tindak kriminalitas yang menonjol, diantaranya seperti curanmor, pencurian dengan pemberatan, perjudian, narkoba, penganiayaan berat, pencurian dengan kekerasan, pencurian kayu, pemerasan, penggunaan senjata api dan bahan peledak.

Kejahatan seperti yang telah disebutkan diatas sebenarnya bisa kita cegah dan atasi karena terlihat jelas jika sedang terjadi disekitar kita. Pelaporan yang menjadi senjata utama untuk memberikan sanksi juga dapat memberikan efek jera. Akan tetapi terkadang masyarakat yang mengetahui atau melihat jelas suatu tindak kejahatan merasa takut untuk melaporkannya. Padahal pelaporan semacam ini sangat berkontribusi banyak untuk menekan angka kriminalitas agar tidak terulang kembali. Memang tak dapat dipungkiri bahawa sebagian kalangan masyarakat memang terkadang masih merasa takut pada saat hendak melaporkan suatu kasus tindak kriminalitas. Rasa takut mereka itu disebabkan karena khawatir nantinya akan muncul ancaman setelah mereka melakukan pelaporan atas suatu kejadian tindak kriminalitas atau takut justru nantinya dirinya akan ikut terjerat hukum.

Telah banyak contoh kejadian seperti demikian, bahkan beberapa tahun kebelakang telah terjadi rentetan ketakutan saksi pada saat dimintai kesaksiannya sebagai saksi atas suatu kejadian tindak pidana. Bahkan tahun lalu jika tidak salah, telah diberitakan terdapat salah satu selebritis Indonesia Cita Citata merasa takut terjerat hukum saat menjadi saksi atas kasus pencurian yang dilakukan suami, Galih Purnama alais Ijonk. Ijonk dilaporkan ke polisi sendiri karena dituduh mencuri seperangkat alat band milik rekannya, Audi Reza Hartanto alias Arez senilai Rp35 juta. Kasus itu sendiri terjadi pada Agustus 2011. Padahal kita ketahui bersama bahwa proses dari pengadilan hukum itu tidak akan mungkin untuk dilakukan apabila tidak terdapat saksi. Jadi saksi seperti ini sebenarnya menjadi sangat penting jika kita semua berbicara tentang penegakan hukum, berbicara tentang pengadilan itu faktor yang sangat penting adalah mereka para saksi

Untuk itulah perlu kita semua ketahui bersama bahwa sebenarnya ada atau terdapat suatu lembaga terkait yang dapat menjamin keselamatan dan memberikan perlindungan kepada siapa masyarakat yang mau mengungkapkan kebenaran dari suatu tindak kriminalitas yang terjadi alias para saksi. Nama dari lembaga tersebut adalah LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban). Secara lebih lengkapnya sendiri Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban, yang selanjutnya disingkat LPSK, adalah lembaga yang bertugas dan berwenang untuk memberikan perlindungan dan hak-hak lain kepada Saksi dan/atau Korban sebagaimana diatur dalam Undang-Undang.

Sedangkan untuk bentuk-bentuk dari perlindungan yang dapat diberikan LPSK terkait suatu kejadian kepada saksi dan korban bisa kita dikategorikan sebagai berikut


  • 1.    Perlindungan fisik dan psikis: Pengamanan dan pengawalan,penempatan di rumah aman, mendapat identitas baru, bantuan medis dan pemberian kesaksian tanpa hadir langsung di pengadilan, bantuan rehabilitasi psiko-sosial.
  • 2.    Perlindungan hukum: Keringanan hukuman, dan saksi dan korban serta pelapor tidak dapat dituntut secara hukum (Pasal 10 UU 13/2006).
  • 3.    Pemenuhan hak prosedural saksi: Pendampingan, mendapat penerjemah, mendapat informasi mengenai perkembangan kasus, penggantian biaya transportasi, mendapat nasihat hukum, bantuan biaya hidup sementara sampai batas waktu perlindungan dan lain sebagainya sesuai ketentuan Pasal 5 UU 13/2006.
Maka dari itulah dihimbau kepada masyarakat yang mengetahui adanya tindak pidana agar tidak takut dan tidak segan-segan untuk menjadi saksi, karena LPSK akan memberikan perlindungan kepada mereka para saksi. Kejahatan tidak akan terbongkar kalau kita takut melaporkannya,Mari Bersama LPSK Kita Tekan Angka Kriminalitas Yang Ada, Ungkap Kebenaran untuk Indonesia yang Lebih Baik.
Previous
Next Post »
0 Komentar