center>

Brebes Ikut Digitalisisasi Petani

00.47
Brebes Ikut Digitalisisasi Petani - Brebes merupakan salah satu kabupaten di Indonesia yang terletak di bagian Utara paling Barat Provinsi Jawa Tengah yang berbatasan langsung dengan wilayah Provinsi Jawa Barat. Kabupaten tanah kelahiran saya ini mungkin belum banyak orang yang mengetahuinya. Namun setelah kejadian "Brexit", tiba-tiba saja nama Brebes mendunia dari Inggris sampai Rusia seperti itulah bunyi salah satu Headline portal berita online. Tetapi kali ini kita tidak akan membahas tentang hal tersebut biarlah komponen masyarakat kreatif dan inovatif yang menyelesaikannya, yang sekarang akan kita bahas adalah berkaitan dengan masalah potensi yang ada di Kabupaten Brebes.

Logo Brebes @Wikipedia
Adakah dari para pembaca sekalian yang pernah mendengar nama sebutan "Kota Bawang"? Ya benar sekali, nama sebutan tersebut merupakan julukan dari Kabupaten Brebes. Memang benar di Kabupaten Brebes sektor pertanian merupakan sektor yang paling dominan diantara sektor yang lainnya. Potensi yang sangat besar dari sektor pertanian ini mampu menjadikan 70% dari sekitar kurang lebih 1,7 juta jumlah penduduk yang ada di Kabupaten Brebes bekerja pada sektor pertanian. Sektor pertanian ini sendiri mampu untuk menyumbangkan hasil hingga 53% PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) Kabupaten Brebes, yang dimana kurang lebih setengahnya yakni 50% berasal dari pertanian bawang merah.

Tidak hanya itu saja pertanian bawang merah sendiri telah menjadi trade mark bagi Kabupaten Brebes mengingat dimana posisinya mampu menempati posisi sebagai salah satu penghasil terbesar komoditi di tataran nasional. Pusat pertanian bawang merah yang ada di Kabupaten Brebes ini tersebar disekitar 11 kecamatan (dari 17 kecamatan) dengan luas panen per tahun 20.000 - 25.000 hektare. Sentra pertanian bawang merahnya sendiri tersebar tepatnya di Kecamatan Brebes, Wanasari, Bulakamba, Tonjong, Losari, Kersana, Ketanggungan, Larangan, Songgom, Jatibarang, dan sebagian di Kecamatan Banjarharjo. Dan perlu diketahui juga bahwa hingga saat ini pun budidaya dari pertanian bawang merah ini masih menjadi napas kehidupan bagi mayoritas masyarakat yang ada di Kabupaten Brebes.

Petani Brebes @google image

Namun meski demikian, jika dilihat dengan seksama masih banyak bahkan hampir sebagian besar masyarakat Kabupaten Brebes yang tergolong kedalam kelas ekonomi rendah atau miskin. Terlebih lagi belum lama ini pada Februari 2016 telah dikabarkan oleh salah satu portal berita online (http://jateng.tribunnews.com/2016/02/24/brebes-peringkat-pertama-jumlah-penduduk-miskin-di-jateng) bahwa "Brebes Peringkat Pertama Jumlah Penduduk Miskin di Jateng". Hal ini jika dipikirkan sangat tidak masuk akal, sebab bagaimana bisa dengan potensi pertanian terlebih pertanian bawang merah yang sangat besar tersebut masyarakat Kabupaten Brebes masih berada pada garis kemiskininan. Bahkan hingga diberitakan menjadi peringkat pertama dengan jumlah penduduk miskin terbanyak di Provinsi Jawa Tengah.

Padahal dilain sisi terlebih dari sudut pandang para konsumen, bawang merah yang merupakan salah satu pemberi cita rasa khas dalam makanan ini termasuk kedalam yang termahal harganya dari jenis pertanian yang lainnya. Lalu apa penyebabnya?
Setelah di usut punya usut ternyata meskipun harga bawang merah mahal, akan tetapi hanya sedikit petani bahkan cenderung tidak ada petani yang merasakannya, kenapa bisa demikian.

Jalur distribusi dari bawang merah yang memang terlalu banyak, bahkan menurut data BPS dari Pusat Data dan Sistem Informasi Kementerian Pertanian mencapai hingga 10 rantai. Dan hal ini menjadikan para petani di Jawa Tengah khusunya Kabupaten Brebes sebagai pihak yang paling lemah dalam urusan harga. Padahal jika dilihat dari kenyataan dipasar, untuk bawang merah sendiri harga per kilogramnya di Kota Jakarta bisa menyentuh harga Rp30.000, akan tetapi untuk harga di para petani hanya dipatok sekitar Rp8.000 hingga Rp10.000.

Memang hal seperti diatas tidak hanya menjadi masalah di Kabupaten Brebes saja melainkan sudah menjadi permasalahan bagi seluruh petani yang di Indonesia. Namun Kabupaten Brebes menjadi catatan tersendiri, pasalnya hampir seluruh masyarakatnya menggantungkan hidup di sektor pertanian. Oleh karena sebab itulah, Kabar Baik-nya permasalahan ini banyak mengambil perhatian para komponen masyarakat kreatif dan inovatif untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang ada di Kabupaten Brebes ini, dari mulai sekelompok anak muda hingga pihak pemerintah pun ikut andil dalam mencari solusi kreatif nan inovatif untuk menyelesaikan permasalahan ini.

Dari mulai sekelompok anak muda yang dalam hal ini kini telah digandeng oleh Menkominfo berinisiatif merintis sebuah pasar digital limakilo.id. Yang dimana pasar digital tersebut mampu untuk memasarkan produk tani secara langsung ketangan konsumen melalui internet yang dimana dapat memotong jalur distribusi yang rumit sehingga menciptakan pasar yang adil baik dari sisi petani maupun konsumen khususnya dalam hal ini konsumen pertanian bawang merah Kabupaten Brebes.

Terlihat kerja sama antara Pak Samsul dan LimaKilo @limakilo.id

Samsul Huda, (52) merupakan salah satu petani bawang merah di Desa Klampok, Brebes, Jawa Tengah yang dalam hal ini telah melakukan kerja sama yang sangat inovatif dengan LimaKilo. Dan dari awal kerjasama hingga sampai saat ini sudah ratusan kilogram bawang merah yang dijual oleh LimaKilo dari Syamsul Huda yang dimana bawang merah tersebut terdistribusi langsung ke tangan konsumen di Jakarta dalam bentuk paket-paket kecil 2,5-5 kilogram, yang dimana hal ini telah memutus sekitar lima atau enam rantai perdagangan.

Hal diatas merupakan suatu solusi yang sangat inovatif sekali menurut saya bila bisa diterapkan kepada para perani disektor pertanian Kabupaten Brebes terlebih diera digitalisasi seperti sekarang ini. Meski pada kenyataannya perlu waktu yang tidak sedikit karena pola fikir masyarakat yang masih tradisional dan lebih memilih yang pasti-pasti saja. Seperti lebih memilih menjual hasil panen bawang merahnya kepada para tengkulak meski harga jual dengan modal hanya berselisih sedikit saja dari pada harus menjualnya secara langsung ke Jakarta meskipun bisa karena terlalu beresiko dan takut rugi.

Namun besar harapan saya semoga kedepannya seluruh petani Kabupaten Brebes bahkan seluruh petani yang ada di Indonesia dapat perlahan memupuk rasa percaya diri dan kemudian beralih ke digitalisasi sbagai Inovasi Daerah dalam persoalan penjualan hasil pertanian mereka seperti Pak Samsul dari Kabupate Brebes, karena selain kehidupan mereka nantinya sebagai petani bisa menjadi lebih sejahtera juga para kosumennya bisa lebih puas dengan harga yang mereka harus bayar. Sebab dilain sisi juga pihak Kominfo telah menerjunkan relawan Teknologi Infomasi dan Komputer (TIK) untuk mengedukasi petani yang masih berpemikiran tradisional agar lebih melek teknologi. Semua ini dilakukan Untuk Indonesia agar seluruh masyarakatnya menjadi masyarakat yang lebih sejahtera kedepannya.

Dan berikut adalah salah satu konsumen LimaKilo yang menuliskan perasaannya setelah membeli produk pertanian langsung dari petani di Brebes

Instagram @isnatiapipit

  Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis Blog Inovasi Daerahku - https://www.goodnewsfromindonesia.id/competition/inovasidaerahku
Previous
Next Post »
0 Komentar